Senin, 07 April 2025

shalat jama' dan qhasar

 

jarak perjalanan

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

“Nabi saw menjama’ sholat zuhur dan ashar juga menjama; sholat maghrib dan isya di madinah tanpa ada sebab ‘takut’ dan juga tanpa sebab hujan” (HR muslim)

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dalam perjalanan sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zhuhur belum masuk), maka beliau menunda shalat Zhuhur hingga waktu Ashar (jamak takhir), kemudian beliau turun dan menggabungkan keduanya (shalat Zhuhur dan Ashar). Namun, jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau melakukan perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat Zhuhur terlebih dahulu,kemudian melanjutkan perjalanan. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1111, 1112 dan Muslim, no. 704]

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِىِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلاَةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

 

“Dari Yahya bin Yazid Al Huna-i, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai qashar shalat. Anas menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim no. 691).

Ibnu Hajar Al Asqolani menyatakan,

وَهُوَ أَصَحّ حَدِيث وَرَدَ فِي بَيَان ذَلِكَ وَأَصْرَحه

 “Itulah hadits yang paling shahih yang menerangkan masalah jarak safar untuk bisa mengqashar shalat. Itulah hadits yang paling tegas.” (Fathul Bari, 2: 567)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ صَلَّى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا ، وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

 “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di Madinah empat raka’at, dan di Dzul Hulaifah (saat ini disebut dengan: Bir Ali) shalat sebanyak dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 1089 dan Muslim no. 690). Padahal jarak antara Madinah dan Bir Ali hanya sekitar tiga mil.

lamanya perjalanan

وأخرج البيهقي في " المعرفة " عن عبيد الله بن عمر عن نافع أن ابن عمر ، قال : ارتج علينا الثلج ، ونحن بأذربيجان ستة أشهر في غزاة ، وكنا نصلي ركعتين . انتهى . قال النووي : وهذا سند على شرط الصحيحين

atsar riwayat baihaqi dari nafi beliau berkata : adalah ibnu umar di ajarbaizan selama 6 bulan beliau (ibnu umar) shalat qashar 2 rakaat. menurut imam nawawi hadits ini shahih dengan syarat bukhary muslim

 

Minggu, 06 April 2025

konsep rizqi

 konsep rizqi

يَقُولُ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعُثَيْمِينَ رَحِمَهُ اللَّهُ: الرِّزْقُ مَا يَنْتَفِعُ بِهِ الْإِنْسَانُ، وَهُوَ نَوْعَانِ: رِزْقٌ يَقُومُ بِهِ الْبَدَنُ (هُوَ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَاللِّبَاسُ وَالْمَسْكَنُ وَالْمَرْكُوبُ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ) ، وَرِزْقٌ يَقُومُ بِهِ الدِّينُ (هُوَ الْعِلْمُ وَالْإِيمَانُ)

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: "Rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Rezeki itu ada dua jenis: Rezeki yang menopang tubuh (yaitu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan hal-hal serupa).Rezeki yang menopang agama (yaitu ilmu dan keimanan)."

 

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,

فَالرِّزْقُ الدُّنْيَوِيُّ يَحْصُلُ لِلْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، وَأَمَّا رِزْقُ الْقُلُوبِ مِنْ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، وَمَحَبَّةِ اللَّهِ وَخَشْيَتِهِ وَرَجَائِهِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَلَا يُعْطِيهَا إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Adapun rezeki duniawi, maka didapatkan oleh orang mukmin dan orang kafir. Adapun rezeki bagi hati, berupa ilmu dan iman, cinta kepada Allah, takut dan berharap kepada-Nya, dan semacam itu, maka tidak Allah berikan kecuali kepada orang-orang yang Dia cintai.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 95)

 

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ ۝٢٢

Di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. (Ad-Dzariyat 22)

dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang proses penciptaan manusia, di dalamnya disebutkan,

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan padanya ruh, dan diperintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu rezeki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Bukhari no. 6594 dan Muslim no. 2643)

 

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan sampai dia menghabiskan semua jatah rezekinya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mencari rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah, 8: 129 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 166, hadis sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866)



Rabu, 06 Maret 2024

ramadhan tanpa kita atau kita tanpa ramadhan

 bismillah...

saudara-saudara ku, banyak sekali kerabat, teman bahkan guru-guru kita yang wafat di tahun ini sebelum masuk bulan ramadhan,..tahun ini ramadhan tanpa mereka...

semoga kita diberi kesempatan hidup di ramadhan tahun ini...karena ramadhan tanpa kita tetap akan menjadi ramadhan yang mulia dan penuh dengan berkah, tetapi kita tanpa ramadhan sungguh sangatlah rugi, karena kita kehilangan kesempatan mendapat magfirah dan pahala yang Allah SWT janjikan sangat agung

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

"Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni" (HR. Ahmad)

banyak orng yang diberi waktu, kesempatan, kesehatan bahkan rizki dibulan ramadhan, tapi mereka melalui ramadhan dengan sia-sia tanpa makna

karena itu..bagi kita dan siapa saja yang masih diberi waktu dan kesempatan mari kita manfaatkan waktu dan kesempatan ramadhan tahun ini sebaik-baiknya

selamat menunaikan ibadah bulan ramadhan 1445H-2024M


Rabu, 15 Juli 2020

cara tayamum menurut hadits rosul SAW



وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).
hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,
بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya (HR Bukhary Muslim)
Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,
وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً
“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ
“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk kedua telapak tangannya ke tanah dengan sekali tepukan, kemudian beliau usap tangan kiri atas tangan kanan, lalu beliau usap punggung kedua telapak tangannya, dan mengusap wajahnya.”
dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,
خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala (HR Abu Dawud)


Rabu, 27 Mei 2020

covid 19 antara keraguan, ketakutan dan kebutuhan

Covid 19 mungkin menjadi tema besar ditahun 2020, karena ditetapkan sebagai pandemi dunia oleh WHO, tapi bagi kebanyakan masyarakat (khususnya masyarakat Indonesia) mungkin hanya sekedar berita yang hilir mudik di media, baik  televisi atau media sosial, karena memang kebanyakan masyarakat hanya mendengar tanpa "merasakan" atau melihat langsung pasien yang menderita covid 19 tersebut, bahkan sampai-sampai ada yang menganggap hanya konsfirasi saja wallohu 'alam.

Tetapi tetap saja pandemi ini cukup membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat fasalnya ditetapkanlah kebijakan-kebijakan oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi pandemi tersebut, bahkan para ulama dan pemuka agama pun sampai mengeluarkan fatwa demi menjaga keselamatan/kesehatan umatnya,tak ayal masyarakatpun mulai membatasi diri menjaga jarak dengan sesama, bahkan ibadah pun dilakukan dirumah.

Berseliwerannya berita pun makin kabur ketika dikalangan para ahli pun berbeda-beda dalam memberikan statemen, ada yang "meringankan" ada pula yang "menakutkan" apalagi sudah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran politik dan ekonomi, sehingga terjadi banyak polemik dimasyarakat, bahkan fatwa ulama sekalipun masih banyak diragukan (dilanggar) oleh umatnya.

Masalah yang timbul karena itu tercampur dengan keniscayaan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari "diam dirumah" tanpa ada kepastian (bekal) untuk hidup sehari-hari tentu bukan masalah semudah teori PSBB atau bahkan teori lockdown karena kebanyakan dari masyarakat kita adalah mencari nafkah diluar rumah.

karena itu maka tidak ada teori yang benar-benar efektif yang bisa diterapkan, antara "keraguan" peraturan, ketakutan terpapar virus covid 19 dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, maka kehidupan pun terus dijalani.

Seburuk apapun berita tentu ada berita baiknya, semenakutkan apapun covid 19, dengan terpaksa dihadapi dengan segala resikonya, ironi memang seandainya masyarakat bawah yang berjibaku dengan rasa takut akan virus dan rasa takut akan lapar harus terus maju berjuang.

Bahkan mereka selalu beranggapan "tidak ada yang benar-benar peduli" kepada mereka kecuali diri mereka sendiri.

Entahlah.....semoga pandemi ini segera berakhir, semoga kita bisa mengambil hikmah, pelajaran, bahwa hidup di dunia ini tidaklah mudah...bahkan makhluk kecil pun membuat tatanan kehidupan kita jadi penuh ketidak jelasan, kehebohan, kerepotan, rasa takut & khawatir

Semoga kita tersadar akan kelemahan kita dan kembali merenungi keagungan Alloh SWT.

Kaitan antara shalat dan qurban

  قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للَّهِ رَبّ ٱلْعَـٰلَمِينَ " Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hi...